Istilah karakter bangsa akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan, mulai di seminar ilmiah sampai cangkrukan warung kopi. Kesimpulan awamnya, bangsa Indonesia sedang kehilangan karakter idealnya. Lalu orang pun mencari musababnya. Orang menduga, penyebabnya karena tidak ada lagi P4, media massa, kapitalisme, agama tidak menjalankan perannya dengan baik. Atau hilangnya pelajaran budi pekerti di sekolah.
Boleh jadi semuanya benar. Namun, yang juga tak bisa dimungkiri adalah kegamangan nilai yang melanda dunia. Tata nilai lokal yang dulu kuat, kini menjadi samar karena berbagai faktor. Di Nahdlatul Ulama, dikenal kaidah al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wal akhdz bi al-jadid al-ashlah: mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Bagian kedua ini agaknya telah kita jalankan, yaitu menerima modernitas.
Sekarang, kita perlu kembali memperkuat nilai-nilai lama yang menjadi akar kita sebagai bangsa dan sebagai pribadi Indonesia. Tanpa karakter bangsa, kita akan kehilangan pengikat kultural dan tak sanggup mempertahankan persatuan Indonesia dari gempuran ideologi dari segala penjuru dunia.
Dari mana harus memulai? Pertanyaan yang sulit dijawab. Budaya korupsi misalnya, akan sulit disembuhkan total pada generasi ini, karena sudah menyerang seluruh bagian tubuh. Bagaikan kanker ganas, yang bisa kita lakukan adalah melakukan kemoterapi, menembak sel-sel kanker yang busuk. Di sinilah KPK mengemban fungsinya.
Satu hal yang kita semua sependapat: anak-anak adalah kunci perubahan berkesinambungan menuju Indonesia yang adil makmur sentosa. Makmur sentosa mensyaratkan keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa integritas. Hilangnya integritas membuat korupsi merajalela. Korupsi adalah bentuk ketidakadilan yang paling nyata, di mana koruptor menyabotase hak rakyat Indonesia. Anak-anak kita, karena ada dalam tahap pertumbuhan dan pembentukan nilai, akan menjadi sel-sel baru yang menggantikan sel-sel tua yang mati.
Sel-sel ini harus sehat, agar bisa mengembalikan vitalitas bangsa. Karena itu sekarang kita perlu dengan sengaja dan sistematis berupaya untuk memberikan gizi yang tepat, melalui pengasuhan dan pendidikan yang berkualitas. Tidak mudah merumuskan karakter bangsa Indonesia seperti apa yang kita kembangkan saat ini, agar selaras dengan perkembangan peradaban. Kita perlu memulai dengan kembali kepada nilai-nilai fundamental yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa, yaitu Pancasila.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa akan menumbuhkan ciri karakter etis, yaitu kesadaran mengenai benar dan salah. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menumbuhkan ciri karakter kematangan sosial, yaitu sikap manusiawi, adil, beradab. Sila Persatuan Indonesia dan sila keempat - yang
berangkat dari nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh -menumbuhkan ciri karakter respek dan interdependensi yaitu kerjasama, saling menghormati, dan demokratis. Sedangkan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menumbuhkan ciri karakter sinergis, yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Dari jabaran di atas, korupsi nyata-nyata melanggar semua ciri karakter tersebut. Korupsi adalah sel-sel perusak jiwa bangsa, dan bila tidak kita atasi, ia akan menghancurkan bangsa ini. Sambil terus melakukan kemoterapi terhadap sel-sel busuk kehidupan bangsa ini, saatnya kita fokus pada asupan gizi yang tepat bagi sel-sel baru Indonesia. Bila kita mampu mendampingi anak Indonesia untuk memupuk karakter bangsa ini, maka kita akan mencetak generasi penuh integritas. Dan bila memegang denyut nadi bangsa ini adalah generasi yang penuh integritas, kita pasti mencapai cita-cita bersama: rakyat adil, makmur dan sentosa.
Sumber : http://acch.kpk.go.id/anak-anak-menanam-karakter-antikorupsi







0 komentar:
Posting Komentar